Ukhuwah yang Tercoreng


Hari ini, sebuah situs yang dulu mewakili partai politik islam di sebuah kawasan dan berubah haluan nama meskipun sebagian mengatakan ini merupakan kamuflase gerak. Mengangkat judul "Pepesan Kosong Hizbut Tahrir"

Lucu sekali, bila berhadapan dengan kami, mereka selalu mengatakan ukhuwwah akhi yang dijaga. Akhi, kita ini sesama muslim dsb. Padahal, isi al-islam itu tidak ada yang salah. Bukankah sesama muslim itu harus mengingatkan dalam kesabaran dan kebenaran?

Judul Al-Islam itu bukan tanpa sebab. Hari ini, banyak sekali aktivis islam, partai berbasis islam, yang tergelincir dan justru orang yang mereka dukung melakukan kemaksiatan. Lihatlah kasus Gubernur Sumatera Utara, yang harus berurusan dengan KPK karena secara sah dan meyakinkan melakukan aktivitas suap. Bagaimana pun naiknya Jokowi ke trah Presiden, tidak lepas dari sumbangsih perjuangan politiknya di Surakarta yang justru didukung oleh kubu partai islam yang saat itu pun berdampingan dengan non-muslim. Sehingga fatwa partai pun keluar tentang kebolehan memilih calon pemimpin daerah dari non-muslim.

Padahal, Allah SWT berfirman,

“Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi auliya dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa) Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu)” (QS. Al Imran: 28)

Sebab di satu sisi, usaha yang dilakukan demi menjangkau perubahan dengan tegaknya syariah, tetaplah harus berada pada jalur yang benar. Jangan sampai calon yang didukung, saat bermasalah, seakan-akan kita mencuci tangan, tidak terlibat atas kasusnya. Bukankah secara nyata, dengan mendukungnya itu merupakan kejahatan dan kemaksiatan besar untuk mengantarkannya berlaku zalim dan korup.


Bila tulisan tersebut diupload demi upaya mendatangkan trafik pengunjung yang bertubi-tubi, sesungguhnya telah nyata, menjadikan sarana pemecah belah demi keuntungan semata-mata. Atau memang perlu dilakukan, seharusnya membuat buletin serupa. Sayangnya, gerakan islam atau partai-partai islam, membuat buletin jumat tidak konsisten untuk terbit. Biasanya terbit ketika jelang urusan perut dan kekuasaan belaka. Selebihnya, usianya tidak akan berlangsung lama.

Hizbut Tahrir, sebagai organisasi islam, tugasnya mengingatkan betapa Pilkada, merupakan jalan dalam demokrasi, untuk meyakinkan muslim, agar tetap berpegang teguh pada tali ajaran manusia dan berlepas diri dari tali agama Allah.

Sejatinya, seharusnya apa yang dikeluarkan Hizbut Tahrir dalam buletin al-islam itu merupakan bentuk gambaran kepada seluruh ummat islam, agar tetap berpegang teguh kepada aturan Allah SWT.



Akhukum,

Rizqi Awal​

[sumber :www.al-khilafah.org]
Previous
Next Post »