MENIKMATI DEMOKRASI TAPI MENOLAK DEMOKRASI, ADAKAH ORANG MUNAFIK SEPERTI ITU?




Oleh : Choirul Anam

Harus diakui bahwa pembahasan tentang demokrasi memang tidak ada habisnya. Ini, hal yang wajar. Sebab, saat ini kita memang hidup di alam demokrasi. Membahas demokrasi, berarti membahas tentang realitas kehidupan kita.

Bahwa saat ini kita hidup di alam demokrasi, itu realitas yang tak bisa diingkari. Meski banyak sekali orang yang meragukan bahwa, saat ini, kita memang benar-benar hidup di alam demokrasi. Banyak pihak yang mengatakan bahwa saat ini, kita bukan di alam demokrasi tetapi di alam imperealis, sebab rakyat tidak benar-benar berdaulat, tetapi yang berdaulat adalah para cukong, para kapitalis, para perampas hak rakyat dan para penipu rakyat. Itu merupakan sesuatu yang diperdebatkan.
Tapi harus diakui juga, meski kita hidup di alam demokrasi, tidak semua orang setuju dengan demokrasi, ada yang menerima demokrasi (entah mereka menganggap demokrasi itu baik atau buruk), tetapi juga banyak yang menolak demokrasi (tentu dengan berbagai alasan, entah itu alasan ideologis atau sekedar alasan teknis-prosedural).

Orang-orang yang menerima demokrasi, tentu sangat wajar jika mereka sangat geram dan jengkel dengan orang yang hidup di alam demokrasi tetapi menolak demokrasi. Karena itu, mereka menyebutnya sebagai orang hipokrit, munafik, atau “bermuka dua”. Di satu sisi hidup dan menikmati demokrasi, tetapi di sisi lain mengkritik dan menolak demokrasi. Bagi mereka, orang-orang yang tak setuju demokrasi sebaiknya meninggalkan negara demokratis seperti Indonesia dan hijrah di negara yang tak demokratis saja. Kata mereka, hal itu lebih fair, daripada tetap hidup di alam demokrasi, tetapi gembar-gembor menolak demokrasi. Logikanya, seperti dalam sebuah perusahaan, jika memang Anda tak setuju dengan aturan perusahaan, lebih baik Anda pindah perusahaan lain yang aturannya Anda setujui. Itu lebih bijak, kata mereka. Gampang kan?

Salahkah menikmati demokrasi? Apakah hidup di alam demokrasi itu berarti pasti menikmati demokrasi? Benarkah hidup di alam demokrasi itu harus setuju demokrasi? Tidak bolehkah mereka yang tinggal di alam demokrasi, kemudian mengkritik demokrasi? Benarkah orang-orang yang mengkritik demokrasi itu adalah orang-orang hipokrit dan “bermuka dua”?
Tulisan ini akan mencoba membahas isu-isu ini.

*****

Apakah menikmati demokrasi itu hal yang salah?

Pembahasan tentang hal ini sangat bergantung pada perspektif yang kita gunakan.
Dalam perspektif psikologis, misalnya, menikmati demokrasi bagi orang-orang yang diuntungkan demokrasi tentu hal yang sangat wajar. Tentu teramat-sangat wajar, jika para aktivis partai (mohon maaf: termasuk yang menamakan diri sebagai partai Islam) sangat menikmati “indahnya” demokrasi, apalagi para elite-nya. Bagaimana tidak? Hanya dengan modal “mulut besar” dan “menebar janji surgawi” kepada rakyat, ia berhasil mendapatkan “surga dunia”, berupa kekayaan yang melimpah ruah, mobil yang super mewah, rumah yang super megah, layanan yang super wah, bahkan artis papan atas-pun akan dengan ikhlas “dicicipi” oleh mereka. Apakah semua itu tidak nikmat? Terhadap berbagai pernyataan sinis seperti ini, mungkin mereka akan mengatakan, bahwa semua itu sebanding dengan “kerja keras” dan modal super-tinggi yang telah ia gelontorkan.

Masih dalam perspektif psikologis, juga sangat wajar, jika banyak orang yang dipermainkan dan dibuat sulit hidupnya oleh demokrasi dan para aktivisnya, kemudian merasa muak dengan demokrasi. Bagaimana tidak? Kebanyakan rakyat, kerja banting tulang, pergi pagi pulang larut malam, meninggalkan anak dan keluarganya, kalau siang tersengat panasnya matahari, kerja dalam medan yang termat sangat membahayakan keselamatan, dan kerja dalam tekanan (under-preassure), itu pun hanya mendapat uang untuk hidup minimum (UMR) atau agar sekedar bisa menyambung hidup. Sudah begitu, saat dapat uang, mereka dipalak oleh pajak. Saat uangnya dibelanjakan untuk membeli barang, mereka dipalak oleh pajak lagi, dan seterusnya. Ia harus rela uangnya yang tak seberapa melayang untuk bayar berbagai pajak, namun kemudian saat uang pajak rakyat terkumpul, uang tersebut dibuat pesta para pejabat dan para elite, uang rakyat dikorupsi, dan dibuat booking artis papan atas atau “ayam kampus”. Tidakkah sangat wajar, mereka begitu geram dan muak dengan sistem demokrasi dan para aktivisnya?

Jadi, secara psikologis sangat wajar ada yang sangat menikmati dan ada yang sangat muak terhadap demokrasi?

Dari aspek ideologis dan teologis juga sama. Tentu sangat wajar ada yang menikmati dan geram dengan demokrasi.

Bagi orang yang memahami bahwa demokrasi atau kedaulatan rakyat dianggap sebagai sistem terbaik, tentu ia sangat nyaman dan menikmati demokrasi. Siapa yang tidak nyaman, beraktivitas dan berjuang untuk sesuatu yang dianggapnya “TERBAIK” dalam hidup ini. Bukan hanya menikmati dan bangga terhadap demokrasi, orang-orang yang memiliki pemahaman ini, akan memperjuangkan demokrasi habis-habisan. Bagi mereka, perjuangan untuk demokrasi adalah: masalah hidup dan mati!.

Tetapi bagi umat Muhammad, yang memahami bahwa yang berdaulat di dunia ini adalah Allah, yang berhak membuat hukum adalah Allah, yang menentukan halal-haram adalah Allah, lalau ia melihat hukum-hukum Allah dijungkir-balikkan, diinjak-injak dan diganti dengan hukum buatan para elite rakyat dan para cukong, tentu ia akan sangat geram dan muak dengan demokrasi dan berbagai realitas yang ditimbulkannya. Ketika Allah mengharamkan riba, tetapi dengan demokrasi rakyat justru menghendaki riba itu bukan sekedar boleh tetapi harus dilembagakan, seperti dalam BANK dan BURSA SAHAM. Ketika Allah mengharamkan zina, tetapi dengan demokrasi rakyat bukan hanya membolehkan zina, tetapi melembagakan zina dalam sebuah lembaga khusus yang diberi nama unik “LOKALISASI”. Melihat semua ini, tidakkah seorang umat Muhammad sangat geram dengan semua ini?

Namun, jika ada umat Muhammad yang tidak muak dengan semua ini, tetapi malah menikmatinya, sebetulnya aneh. Tetapi, itu urusan dia dengan Allah swt.
Jadi, masalah menikmati dan muak dengan demokrasi, itu sangat bergantung dari pemahaman dan pengalaman hidup (experiences) masing-masing.

*****
Benarkah orang yang hidup di alam demokrasi berarti pasti menikmati demokrasi?

Hidup di alam demokrasi dan menikmati demokrasi itu dua hal yang berbeda. Realitanya, ada orang yang hidup di alam demokrasi dan menikmatinya, namun ada juga orang yang hidup di alam demokrasi tetapi ia sangat muak dengannya.

Pertanyaan menarik tentang masalah ini: Saat ada orang yang bekerja yang halal sesuai profesinya, misalnya jadi guru, dosen, perawat, atau pekerjaan apapun, apakah berarti ia menikmati demokrasi?
Menurut saya, ini tidak ada hubungannya dengan menikmati demokrasi atau bukan. Bagi lelaki Muslim, bekerja adalah wajib, yaitu untuk menafkahi diri dan keluarganya. Mereka tetap harus bekerja, di alam mana pun mereka hidup, di alam demokrasi atau bukan. Di alam demokrasi, ia wajib bekerja. Di sistem kerajaan, ia juga wajib bekerja. Bahkan, seandainya Khilafah tegak dan ia menjadi warga negaranya, ia pun tetap wajib bekerja. Bekerja bagi lelaki muslim adalah wajib. Tentu, mereka harus bekerja yang halal, bukan bekerja yang diharamkan Allah, seperti pekerjaan yang terlibat ribawi, dll.

Dalam Islam bekerja yang halal tidak harus dengan lembaga atau orang Islam. Misalnya, ada orang bekerja di suatu usaha miliknya orang Kristen, selama pekerjaan yang ia lakukan adalah pekerjaan yang halal, contoh membuat rumah atau menjual alat elektronik, maka itu adalah sesuatu yang halal. Sebaliknya, bekerja di lembaganya orang Islam, tetapi untuk transaksi ribawi atau untuk memproduksi miras, maka itu jelas-jelas haramnya. Bahwa yang terbaik adalah bekerja yang halal dengan sesama muslim, maka itu memang benar adanya. Jadi, masalah ini tidak ada kaitannya dengan menikmati demokrasi atau bukan.

Orang yang bekerja di lembaga swasta atau negeri, juga tidak ada kaitannya dengan menikmati demokrasi atau tidak. Seorang lelaki muslim wajib bekerja yang halal, dengan lembaga manapun ia bekerja. Seandainya ia bekerja mengajari anak-anak membaca dan menulis di lembaga pemerintahan, apakah itu haram? Tentu, seorang muslim ketika ia bekerja di lembaga peradilan yang memberi putusan hukum, maka ia harus memutuskan hukum sesuai dengan hukum Allah. Seandainya, ia tidak memutuskan sesuai hukumnya Allah, berarti ia berbuat maksiyat. Jika ia tidak bisa memutuskan hukumnya Allah karena berbagai sebab, maka ia mestinya harus keluar dari pekerjaannya. Hal ini karena pekerjaannya memutuskan hukum yang bertentangan dengan huku Allah adalah haram. Jadi, bekerja di suatu tempat atau lembaga, tidak ada kaitannya dengan menikmati demokrasi atau bukan.
Ini tentu berbeda dengan orang-orang yang bekerja yang berkaitan secara langsung dengan pilar-pilar demokrasi, misalnya ia bekerja sebagai pengurus partai, menjadi anggota dewan, atau bekerja di tempat lain yang mensupport demokrasi. Mereka inilah yang dapat dikaitkan dengan menikmati demokrasi. Meski muncul pertanyaan: apakah mereka benar-benar menikmati atau bukan? Itu sangat tergantung pada mereka sendiri.

Jadi, hidup di alam demokrasi dan bekerja dengan sungguh-sungguh untuk mencari yang hahal, tidak ada hubungannya dengan menikmati demokrasi.
Terkait dengan pertanyaan: Benarkah orang yang hidup di alam demokrasi berarti pasti menikmati demokrasi, ada hal yang menarik saat bedah buku saya yang berjudul CINTA INDONESIA RINDU KHILAFAH. Ada yang bertanya: Kita ini kan hidup di alam demokrasi, berarti kita pasti menikmati demokrasi?

Saya jawab: Bahwa kita hidup di alam demokrasi, itu benar adanya. Tetapi apakah kita menikmati demokrasi atau tidak, itu murni pilihan hidup kita. Sebagaimana Rasulullah saw, beliau saat di Makkah hidup di alam jahiliyah, tetapi apakah Rasulullah saw menikmati jahiliyah........?????? Apakah saat para sahabat Rasulullah saw bekerja di Makkah, bisa disebut sebagai penikmat jahiliyah....?????? Apakah saat ada sahabat Nabi yang kaya raya, yaitu Abdur Rahman bin Auf, dapat dianggap sebagai penikmat jahiliyah.....?????
Saya berlindung kepada Allah dari anggapan seperti itu....

*****

Apakah orang yang hidup di alam demokrasi, harus setuju dengan demokrasi?

Di dunia ini, tidak ada keharusan orang hidup harus setuju dengan sistem pemerintahan tempat mereka hidup. Di bumi manapun, pasti akan kita jumpai orang-orang yang tidak sepakat dengan sistem pemerintahan yang ada. Tentu dengan berbagai alasan masing-masing.
Salahkah orang yang tak setuju demokrasi?

Kembali lagi, ini begantung pada perspektif yang kita gunakan.
Bagi orang yang menganggap demokrasi adalah sumber dari segala sumber kebaikan, wajar saja mereka setuju dan berjuang untuk demokrasi. Tetapi, bagi orang yang menganggap bahwa demokrasi adalah sumber dari segala sumber keburukan dan kejahatan, apakah mereka harus setuju dengan demokrasi???

Bagi orang yang memahami bahwa demokrasi telah nyata-nyata membawa pada korupsi tingkat akut, penipuan rakyat secara masif dengan mengatas-namakan rakyat, terjarahnya sumber daya alam oleh para kapitalis karena diserahkan oleh para elit demokratis, tirani minoritas dan mayoritas, diaborsinya pelayanan publik terhadap rakyat dan lain sebagainya. Bagi mereka, apakah mereka harus setuju dengan demokrasi????

Apalagi bagi umat Islam, yang memahami bahwa demokrasi telah mengaborsi hukum-hukum Allah, dan menggantinya dengan hukum berdasar nafsu manusia, salahkan mereka tak setuju demokrasi???
Orang yang tahu ada sesuatu yang buruk, jahat dan merusak, tetapi ia tetap setuju dan mendukung, orang seperti ini juga patut dipertanyakan sifat kemanusiaannya. Jika mereka orang yang dianggap orang cerdas, maka juga patut dipertanyakan kecerdasannya. Jika mereka adalah orang yang mengaku terdidik, maka juga patut dipertanyakan pendidikannya.

Mungkin, ada yang berkata: kalau Anda tidak setuju, Anda pergi saja dari sini!!!.
Jika memang pernyataan ini diucapkan oleh pejuang demokrasi, sungguh mereka telah menjilat ludah mereka sendiri. Bagaimana bisa, mereka mengganggap demokrasi yang katanya sangat menghargai kebebsan manusia, tetapi mereka memaksa orang lain untuk pergi meninggalkan tanah warisan nenek-moyangnya, yang telah ditinggali ribuan tahun??? Apa hak mereka??? Apakah karena mereka merasa sangat demokratis, sehingga merasa layak melakukan hal itu???

Saat seseorang melihat ada yang keliru di masyarakatnya, pergi dari daerahnya justru sangat tidak bertanggung-jawab. Sikap yang diambil seharusnya adalah memperbaiki kondisi masyarakat yang ada. Jika mereka memahami bahwa demokrasi telah membawa kerusakan dan kekacauan, sementara mereka melihat bahwa syariah Islam adalah solusi, maka sikap yang bertanggung-jawab adalah: Mereka bersungguh-sungguh mengubah demokrasi dan menggantinya dengan syariah!!! Orang yang bertanggung-jawab tidak akan pernah membiarkan masyarakatnya, teman-temannya, dan keluarganya hidup dalam kekacauan dan kerusakan.

Apakah orang yang hidup di alam demokrasi, harus setuju dengan demokrasi? Secara tegas saya katakan, tidak ada alasan ilmiah apapun untuk menjawab dengan jawaban: “YA!!!”.
Mungkin ada yang mengatakan: “Tapi kan, jika di sebuah perusahaan, jika memang Anda tak setuju dengan aturan perusahaan, lebih baik Anda pindah perusahaan lain yang aturannya Anda setujui.” Itu lebih bijak, kata mereka.
Saya katakan: “Hei Bung! Ini bukan perusahaan! Ini adalah umat, masyarakat!”

*****
Terakhir, benarkah orang-orang yang mengkritik demokrasi itu adalah orang-orang hipokrit, munafik dan “bermuka dua”?
Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu bertanya apa arti munafik, hipokrit dan “bermuka dua” di sini. Jika yang dimaksud adalah bedanya tindakan (keputusan) dan ucapan, maka permasalahan ini dapat dirinci sebagai berikut:

Orang yang MENIKMATI demokrasi, misalnya dengan menjadi elite partai, tetapi tiba-tiba ia sok mengkritik demokrasi, untuk mendapat simpati dari rakyat, maka orang seperti ini layak disebut hipokrit atau “bermuka dua”.
Orang-orang yang berjanji akan membela dan menyejahterakan rakyat saat kampanye, ternyata berkhianat saat berkuasa. Mereka hanya membela diri, partainya dan para cukong di belakangnya, sementara rakyat dikelabuhi dan ditipu, maka orang seperti ini layak disebut hipokrit atau “bermuka dua”.

Sementara orang yang hidup di alam demokrasi, lalu mereka memahami dengan pikiran jernih dan hati yang tulus bahwa demokrasi itu buruk, baik secara filosofis atau praktiknya, dan mereka memahami bahwa yang dapat menyelesaikan adalah syariah dan khilafah, lalu mereka berjuang sekuat tenaga agar syariah dan khilafah dapat diterapkan. Mereka tak terlibat pada demokrasi pada segala aspeknya. Apakah orang-orang seperti ini bisa disebut hipokrit, munafiq atau “bermuka dua”?.
Lebih tegasnya lagi: apakah orang-orang yang berjuang meniru Rasulullah saw dan para sahabatnya, untuk memperbaiki masyarakat, layak disebut hipokrit, munafiq atau “bermuka dua”?
Apakah Rasulullah saw dan para sahabatnya, yang realitasnya memang hidup di alam jahiliyah, kemudian menolak dan mengkritik jahiliyah serta memperjuangan syariah Islam dengan ikhlas dan tulus, layaknya mereka disebut hipokrit, munafiq atau “bermuka dua”?.
Jika kita mengatakan “ya”: maka kita layak mendapat gelar “maling teriak maling”!.

Wallahu a’lam.

Sumber : https://www.facebook.com/ustadzchoirulanam/posts/1020432337977996
Previous
Next Post »