Pengaruh Maksiat Bagi Diri




Kali ini saya akan menyajikan tulisan yang saya kutip (dengan sedikit penyesuaian redaksi bahasa tentunya) dari kitab ad-Daa’ wa ad-Dawaa’ (الداؔ ŁˆŲ§Ł„ŲÆŁˆŲ§Ų”) karya Imam Ibnul Qoyyim al-Jauziyah rahimahullah. Kitab ini banyak membahas tentang penyakit hati dan obatnya, salah satunya adalah tentang pengaruh maksiat yang bisa dirasakan oleh seseorang yang melakukannya. Apa saja pengaruh maksiat bagi diri? Berikut yang tertulis di kitab ad-Daa’ wa ad-Dawaa’.

1. Menghalangi Ilmu (حرمان العلم)

Ilmu adalah cahaya yang diletakkan Allah di dalam hati, sedangkan maksiat memadamkan cahaya tersebut.

Imam as-Syafi’i duduk di depan Imam Malik. Dia membacakan sesuatu yang membuat Imam Malik kagum. Imam Malik sangat mengagumi kecepatannya dalam menangkap pelajaran, kecerdasannya, dan pemahamannya yang sempurna. Imam Malik berkata, “Aku melihat, Allah telah meletakkan cahaya dalam hatimu. Jangan padamkan cahaya itu dengan kegelapan maksiat (Ų„Ł†ŁŠ أرى الله قد ألقى على Ł‚Ł„ŲØŁƒ Ł†ŁˆŲ±Ų§، فلا تطفئه بظلمة Ų§Ł„Ł…Ų¹ŲµŁŠŲ©)”.

Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata:

“Saya mengeluhkan jeleknya hafalanku kepada Waki’ (ؓكوت ؄لى وكيع سوؔ حفظي);

Ia menasihatiku untuk meninggalkan maksiat (ŁŲ£Ų±Ų“ŲÆŁ†ŁŠ ؄لى ترك Ų§Ł„Ł…Ų¹Ų§ŲµŁŠ);

Ia berkata, ‘ketahuilah bahwa ilmu itu adalah keutamaan, (ŁˆŁ‚Ų§Ł„ اعلم بأن العلم فضل);

Dan keutamaan dari Allah tidak diberikan kepada pelaku maksiat’ (ŁˆŁŲ¶Ł„ الله لا ŁŠŲ¤ŲŖŲ§Ł‡ عاصي). ”

2. Menghalangi Rezeki (حرمان الرزق)

Dalam Musnad dikatakan, “Sesungguhnya seorang hamba tidak mendapatkan rezeki karena dosa yang dikerjakannya (؄ن العبد Ł„ŁŠŲ­Ų±Ł… الرزق بالذنب ŁŠŲµŁŠŲØŁ‡).”

Taqwa kepada Allah dapat mendatangkan rezeki, sementara meninggalkan ketaqwaan bisa mendatangkan kefakiran dan kemiskinan.

3. Menimbulkan Keresahan dalam Hati Antara Dirinya dengan Allah (وحؓة ŁŠŲ¬ŲÆŁ‡Ų§ Ų§Ł„Ų¹Ų§ŲµŁŠ في قلبه ŲØŁŠŁ†Ł‡ ŁˆŲØŁŠŁ† الله)

Karena keresahan ini, ia tak mendapatkan kenikmatan asasi. Kenikmatan-kenikmatan dunia dan seisinya tidak akan mampu mengatasi keresahan dalam hati. Namun, keresahan ini hanya dirasakan oleh orang yang hatinya masih hidup. Orang yang mati tidak dapat merasakan sakit yang ditimbulkan oleh luka.

4. Menimbulkan Keresahan Ketika Dirinya Bersama dengan Orang Lain, Terutama Bersama Orang-orang yang Baik (Ų§Ł„ŁˆŲ­Ų“Ų© Ų§Ł„ŲŖŁŠ تحصل له ŲØŁŠŁ†Ł‡ ŁˆŲØŁŠŁ† الناس، ŁˆŁ„Ų§Ų³ŁŠŁ…Ų§ أهل Ų§Ł„Ų®ŁŠŲ± منهم)

Orang yang resah hatinya akan menjauhkan diri dari lingkungan yang baik. Ia tak mendapatkan manfaat dari orang-orang yang baik. Dan ia akan mendekati kelompok setan (Ų­Ų²ŲØ Ų§Ł„Ų“ŁŠŲ·Ų§Ł†), sekaligus semakin menjauh dari kelompok orang-orang yang dekat dengan Allah (Ų­Ų²ŲØ الرحمن). Ini akan terus terjadi dan semakin parah, kecuali ia memilih meninggalkan maksiat.

5. Mendatangkan Kesulitan dalam Urusan-urusannya (تعسير Ų£Ł…ŁˆŲ±Ł‡ Ų¹Ł„ŁŠŁ‡)

Kemaksiatan menjadikan seseorang menjumpai banyak kesulitan. Ia tak menemukan jalan pemecahan atau jalan pemecahan tersebut sangat sulit didapatkan. Orang yang bertaqwa kepada Allah akan mendapatkan keringanan, sedangkan orang yang tidak bertaqwa akan mendapatkan kesulitan dari Allah dalam setiap urusannya.

6. Menimbulkan Kegelapan dalam Hati (ظلمة ŁŠŲ¬ŲÆŁ‡Ų§ في قلبه)

Kegelapan dalam hati akan dirasakan oleh seseorang seperti gelapnya malam. Kegelapan di dalam hati akibat maksiat laksana kegelapan indrawi yang menutupi penglihatan matanya. Ketaatan adalah cahaya, dan kemaksiatan adalah kegelapan. Setiap kali kegelapan menguat, semakin bingunglah ia hingga jatuh ke dalam bid’ah, kesesatan dan hal-hal yang membinasakan, dan ia tidak merasakan hal itu.

‘Abdullah ibn ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Sesungguhnya untuk kebaikan ada sinar pada wajah, cahaya pada hati, kelapangan pada rezeki, kekuatan pada badan, dan kecintaan dari hati banyak orang terhadap dirinya. Adapun perbuatan buruk menimbulkan warna hitam pada wajah, kegelapan dalam kubur dan hati, kelemahan pada badan, kekurangan rezeki, dan rasa benci kepadanya di hati banyak orang. (؄ن للحسنة ضياؔ في Ų§Ł„ŁˆŲ¬Ł‡، ŁˆŁ†ŁˆŲ±Ų§ في القلب، وسعة في الرزق، ŁˆŁ‚ŁˆŲ© في البدن، ŁˆŁ…Ų­ŲØŲ© في Ł‚Ł„ŁˆŲØ الخلق، ŁˆŲ„Ł† Ł„Ł„Ų³ŁŠŲ¦Ų© سوادا في Ų§Ł„ŁˆŲ¬Ł‡، ŁˆŲøŁ„Ł…Ų© في القبر ŁˆŲ§Ł„Ł‚Ł„ŲØ، ŁˆŁˆŁ‡Ł†Ų§ في البدن، ŁˆŁ†Ł‚ŲµŲ§ في الرزق، وبغضة في Ł‚Ł„ŁˆŲØ الخلق).”

7. Melemahkan Hati dan Badan (ŲŖŁˆŁ‡Ł† القلب ŁˆŲ§Ł„ŲØŲÆŁ†)

Kelemahan pada hati merupakan hal yang nyata. Maksiat akan terus-menerus melemahkannya hingga habislah kehidupannya. Adapun kelemahan pada badan, maka sesungguhnya kekuatan orang mukmin itu teletak pada hati, jika hatinya kuat maka badannya pun akan menguat. Sedangkan orang faajir, meskipun berbadan kuat, sesungguhnya ia paling lemah. Saat memerlukan kekuatan, ia dikhianati oleh kekuatannya sendiri yang sangat diperlukannya.

Bayangkan kekuatan badan orang Persia dan Romawi dapat mengelabui mereka, padahal kekuatan badan itulah yang paling mereka andalkan. Mereka akhirnya dikalahkan oleh orang-orang yang beriman yang memiliki kekuatan badan dan hati.

8. Menghalangi Ketaatan (حرمان الطاعة)

Hukuman bagi pendosa adalah terhalang dan terputusnya ia dari semua jalan ketaatan kepada Allah. Padahal satu ketaatan lebih baik dari dunia dan seisinya. Ibaratnya, seperti seseorang yang makan suatu makanan yang mendatangkan penyakit yang akut, yang akhirnya mencegahnya dari berbagai macam makanan yang lezat dan baik. Wallaahul musta’aan.

9. Mengurangi Umur dan Melenyapkan Keberkahannya (تقصر العمر ŁˆŲŖŁ…Ų­Ł‚ ŲØŲ±ŁƒŲŖŁ‡)

Sesungguhnya kebaikan menambah umur, sedangkan kemaksiatan mengurangi umur. Ulama berbeda pendapat mengenai hal ini. Sebagian mengatakan bahwa maksud kurangnya umur orang yang suka berbuat maksiat adalah hilangnya keberkahan umur tersebut. Ini benar dan merupakan bagian dari pengaruh kemaksiatan bagi diri.

Sebagian yang lain mengatakan bahwa maksiat benar-benar akan mengurangi umur, sebagaimana berkurangnya rezeki. Ada juga yang berpendapat bahwa maksudnya adalah kehidupan hati, oleh karena itu Allah menyatakan orang kafir sebagai orang mati, bukan orang yang hidup. Sebagaimana yang Ia sebutkan di surah an-Nahl ayat 21:

Ų£Ł…ŁˆŲŖ غير أحياؔ

Kesimpulannya, bila seorang hamba berpaling dari Allah ta’ala dan sibuk dengan kemaksiatan, lenyaplah kehidupannya yang hakiki. Akhirnya ia menyesal dan berkata sebagaimana yang dinyatakan dalam surah al-Fajr ayat 24:

ŁŠŁ„ŁŠŲŖŁ†ŁŠ قدمت Ł„Ų­ŁŠŲ§ŲŖŁŠ


sumber : abufurqan.net
Previous
Next Post »